MDI Logo

Insight Bisnis

Semua Artikel

Article image
Edukasi Umum

SOC vs COC: Siapa Sebenarnya Pemilik Kontainer?

Diterbitkan pada 29 August 2026

Tidak semua kontainer yang digunakan dalam pengiriman barang merupakan milik perusahaan pelayaran. Dalam industri logistik, terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk membedakan sumber atau pengelolaan kontainer, yaitu SOC dan COC. Memahami perbedaan keduanya penting bagi shipper karena dapat berpengaruh terhadap pengelolaan kontainer, biaya, hingga proses operasional selama pengiriman. Apa Itu SOC?SOC atau Shipper Owned Container adalah kontainer yang disediakan oleh pihak shipper untuk digunakan dalam proses pengiriman. Meski disebut Shipper Owned Container, bukan berarti shipper selalu membeli dan memiliki kontainer tersebut sebagai aset. Kontainer SOC juga dapat berasal dari skema sewa atau pengaturan lainnya. Penggunaan SOC memberikan shipper kontrol yang lebih besar terhadap kontainer. Hal ini dapat menjadi pilihan untuk rute tertentu atau kondisi pengiriman yang membutuhkan fleksibilitas lebih dalam pengelolaan equipment. Apa Itu COC?COC atau Carrier Owned Container adalah kontainer yang dimiliki atau dikelola oleh carrier, seperti perusahaan pelayaran. Dalam skema COC, shipper menggunakan kontainer yang disediakan oleh shipping line untuk mengangkut barang. Setelah barang selesai dikirim, kontainer perlu dikembalikan sesuai ketentuan dan lokasi yang ditentukan oleh carrier. Karena kontainer berada dalam pengelolaan carrier, penggunaannya mengikuti aturan yang berlaku, termasuk mengenai free time, detention, dan pengembalian kontainer. Dengan kata lain, pada COC, shipper tidak perlu menyediakan kontainernya sendiri karena equipment disediakan oleh carrier. Apa Perbedaan SOC dan COC?Perbedaan paling sederhana terletak pada siapa yang menyediakan dan mengelola kontainer. Pada SOC, kontainer disediakan oleh shipper dan pengelolaannya berada di pihak shipper atau pihak yang menyediakan kontainer tersebut. Sementara pada COC, kontainer disediakan oleh carrier dan penggunaannya mengikuti ketentuan carrier. Perbedaan ini dapat memengaruhi berbagai aspek operasional, seperti ketersediaan kontainer, proses pengembalian, biaya penggunaan, serta fleksibilitas dalam menentukan equipment. Karena itu, pemilihan SOC atau COC perlu mempertimbangkan kebutuhan pengiriman, rute, biaya, dan kondisi operasional. Mana yang Lebih Baik, SOC atau COC?Tidak ada pilihan yang selalu lebih baik untuk semua pengiriman. SOC dapat memberikan fleksibilitas lebih besar bagi shipper yang memiliki kebutuhan khusus terhadap kontainer. Sementara COC dapat menjadi pilihan praktis karena shipper menggunakan equipment yang disediakan carrier. Yang penting adalah memahami konsekuensi dari masing-masing skema sebelum menentukan pilihan. KesimpulanSOC dan COC bukan sekadar istilah mengenai kontainer, tetapi juga menunjukkan pihak yang menyediakan dan mengelola equipment tersebut. SOC merupakan kontainer yang disediakan oleh shipper, sedangkan COC merupakan kontainer yang disediakan atau dikelola carrier. Dengan memahami perbedaan SOC dan COC, perusahaan dapat menentukan skema penggunaan kontainer yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengiriman sekaligus mengelola biaya dan operasional secara lebih efektif.

Article image
Asuransi Pengangkutan Laut

75 Kontainer Jatuh dari Kapal MV Mississippi di Long Beach, Apa Dampaknya bagi Logistik?

Diterbitkan pada 29 August 2026

Insiden kecelakaan kontainer kembali terjadi di pelabuhan Amerika Serikat. Pada 9 September 2025, sekitar pukul 08.48 waktu setempat, sejumlah kontainer jatuh dari kapal MV Mississippi saat sedang bersandar di Pier G, Port of Long Beach, California. Laporan awal menyebut sekitar 67 kontainer jatuh. Namun, setelah proses penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut, jumlahnya diperbarui menjadi sekitar 75 kontainer. Sebagian masuk ke perairan pelabuhan, sementara beberapa lainnya jatuh ke area dermaga dan mengenai kapal tongkang pengendali emisi yang berada di sisi kapal. Apa yang Terjadi pada MV Mississippi?MV Mississippi merupakan kapal kontainer berbendera Portugal yang dioperasikan oleh ZIM dan memiliki kapasitas sekitar 5.500 TEUs. Saat kejadian, kapal sedang melakukan proses bongkar muat setelah tiba dari Yantian, China. Dua bagian susunan kontainer di atas kapal mengalami keruntuhan sehingga kontainer jatuh ke air dan area sekitar dermaga. Sekitar 25 sampai 30 kontainer sempat diperkirakan berada di dasar perairan dan harus ditemukan menggunakan sonar sebelum proses evakuasi dilakukan. Penyebab pasti keruntuhan belum dapat langsung dipastikan. Investigasi dilakukan oleh otoritas terkait, termasuk U.S. Coast Guard dan National Transportation Safety Board. Apa Dampaknya bagi Operasional Pelabuhan?Insiden tersebut menyebabkan aktivitas di Pier G dihentikan sementara untuk mengamankan kapal, kontainer, serta area sekitar. U.S. Coast Guard juga menetapkan zona keselamatan sekitar 500 yard di sekitar MV Mississippi. Selain kehilangan dan kerusakan kontainer, sebuah tongkang pengendali emisi yang berada di sisi kapal ikut mengalami kerusakan. Seorang pekerja juga dilaporkan mengalami cedera ringan saat berusaha menghindari kontainer yang jatuh. Tim gabungan kemudian melakukan operasi pencarian dan penyelamatan menggunakan kapal, sonar, penyelam, serta peralatan pengangkatan. Seluruh kontainer yang jatuh ke air akhirnya berhasil dievakuasi pada 26 September 2025 dan pembatasan lalu lintas kapal kemudian dicabut. Pelajaran bagi Industri LogistikInsiden MV Mississippi menunjukkan bahwa keselamatan dan pengelolaan kontainer merupakan bagian penting dari efisiensi operasional pelabuhan. Keruntuhan susunan kontainer tidak hanya berpotensi menyebabkan kehilangan barang, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas terminal, merusak fasilitas, menimbulkan risiko keselamatan, dan memperlambat pergerakan kapal maupun kargo. Bagi pemilik barang, kejadian seperti ini juga menjadi pengingat pentingnya memastikan Marine Cargo Insurance yang dimiliki sesuai dengan karakteristik risiko pengiriman. Perlindungan asuransi dapat membantu mengurangi dampak finansial ketika terjadi kehilangan atau kerusakan barang selama proses pengangkutan, sesuai ketentuan polis. KesimpulanInsiden MV Mississippi di Port of Long Beach menjadi pengingat bahwa risiko dalam rantai logistik dapat muncul bahkan ketika kapal sudah berada di pelabuhan. Dengan sekitar 75 kontainer jatuh, kejadian ini menunjukkan pentingnya pengelolaan keselamatan, stabilitas muatan, pengawasan operasional, serta kesiapan penanganan insiden di lingkungan pelabuhan. Sumber berita: Los Angeles Times, Lloyd's List, dan laporan penanganan insiden di Port of Long Beach.Sumber image: abcnews.com

Article image
Edukasi Umum

Apa Itu Detention dan Demurrage dalam Logistik Kontainer?

Diterbitkan pada 13 August 2026

Dalam pengiriman kontainer, detention dan demurrage merupakan dua biaya yang sering membingungkan pelaku logistik. Keduanya berkaitan dengan penggunaan kontainer melewati batas waktu yang ditentukan atau free time. Perbedaannya terutama terletak pada posisi kontainer ketika batas waktu tersebut terlewati. Apa Itu Demurrage?Demurrage adalah biaya yang dikenakan ketika kontainer masih berada di terminal atau pelabuhan setelah melewati batas free time. Contohnya, kontainer impor sudah selesai dibongkar dari kapal, tetapi belum dikeluarkan dari terminal sampai batas waktu yang diberikan shipping line berakhir. Kondisi tersebut dapat menimbulkan biaya demurrage. Sederhananya, kontainer masih di terminal dan melewati free time = demurrage. Apa Itu Detention?Detention adalah biaya yang dikenakan ketika kontainer sudah keluar dari terminal, tetapi belum dikembalikan kepada shipping line setelah melewati batas waktu yang ditentukan. Misalnya, kontainer sudah dibawa ke gudang consignee untuk proses bongkar barang. Jika kontainer terlambat dikembalikan ke depo sesuai batas waktu yang ditentukan, biaya detention dapat dikenakan.Sederhananya, kontainer sudah keluar terminal tetapi terlambat dikembalikan = detention. Kenapa Detention dan Demurrage Bisa Terjadi?Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan kontainer melewati free time, mulai dari dokumen yang belum selesai, proses kepabeanan, keterlambatan trucking, hingga proses bongkar barang yang terlalu lama. Kurangnya koordinasi antara shipper, consignee, EMKL, trucking, terminal, dan shipping line juga dapat meningkatkan risiko keterlambatan. Karena itu, mengetahui batas free time dan jadwal pengambilan serta pengembalian kontainer menjadi bagian penting dalam pengelolaan biaya logistik. Bagaimana Menghindari Biaya Tambahan?Detention dan demurrage dapat diminimalkan dengan perencanaan yang lebih baik. Pastikan dokumen sudah dipersiapkan sebelum kontainer tiba, koordinasikan jadwal trucking, pantau status kontainer, dan ketahui dengan jelas kapan free time berakhir. Semakin cepat perusahaan mengetahui adanya potensi keterlambatan, semakin besar peluang untuk mengambil tindakan sebelum biaya tambahan muncul. KesimpulanDemurrage terjadi ketika kontainer masih berada di terminal setelah melewati free time, sedangkan detention terjadi ketika kontainer sudah keluar dari terminal tetapi terlambat dikembalikan. Memahami perbedaan keduanya penting bagi pelaku logistik karena biaya tersebut dapat menambah total biaya pengiriman apabila tidak dikelola dengan baik. Dengan koordinasi, perencanaan, dan pemantauan kontainer yang lebih baik, risiko detention dan demurrage dapat ditekan.

Article image
Asuransi Pengangkutan Laut

Apa Itu ICC A, ICC B, dan ICC C dalam Marine Cargo Insurance?

Diterbitkan pada 13 August 2026

Dalam Marine Cargo Insurance, kita sering menemukan istilah Institute Cargo Clauses (ICC) A, ICC B, dan ICC C. Ketiganya menentukan cakupan perlindungan yang diberikan terhadap barang selama proses pengangkutan.Perbedaan utamanya terletak pada seberapa luas risiko yang ditanggung oleh masing-masing klausul. Apa Itu ICC A?ICC A memberikan cakupan perlindungan paling luas dibandingkan ICC B dan ICC C. ICC A menggunakan pendekatan all risks, yang berarti berbagai risiko kerusakan atau kehilangan dapat dijamin selama tidak termasuk dalam pengecualian polis. Namun, all risks bukan berarti semua kerugian otomatis ditanggung. Tetap ada pengecualian dan ketentuan yang perlu diperhatikan dalam polis. Apa Itu ICC B?ICC B memberikan perlindungan terhadap risiko-risiko tertentu yang secara spesifik tercantum dalam klausul.Cakupannya lebih terbatas dibandingkan ICC A, tetapi lebih luas dibandingkan ICC C. Beberapa risiko yang dapat tercakup antara lain kebakaran, kapal kandas atau tenggelam, gempa bumi, serta masuknya air laut, sesuai ketentuan polis. Apa Itu ICC C?ICC C memiliki cakupan perlindungan paling dasar di antara ketiganya. Klausul ini juga menggunakan pendekatan named perils, sehingga perlindungan diberikan terhadap risiko-risiko tertentu yang disebutkan dalam klausul. Karena cakupannya lebih terbatas, pemilihan ICC C perlu disesuaikan dengan karakteristik barang dan risiko pengiriman. Apa Perbedaan ICC A, B, dan C?Secara sederhana, ICC A memiliki cakupan paling luas, ICC B berada di tingkat menengah, sedangkan ICC C memberikan cakupan dasar. Namun, memilih perlindungan Marine Cargo Insurance sebaiknya tidak hanya berdasarkan tingkat cakupan. Jenis barang, nilai kargo, rute pengiriman, serta risiko yang mungkin terjadi juga perlu dipertimbangkan. KesimpulanMemahami perbedaan ICC A, ICC B, dan ICC C penting agar perusahaan dapat memilih perlindungan Marine Cargo Insurance yang sesuai dengan kebutuhan pengiriman.Yang perlu diingat, cakupan masing-masing klausul tetap mengikuti syarat, pengecualian, dan ketentuan yang tercantum dalam polis. Konsultasikan kebutuhan Marine Cargo Insurance bersama Maritim Digital Indonesia dengan klik link di bio.

Article image
PortPintar

Apa Itu Port Community System (PCS) dan Mengapa Penting bagi Pelabuhan?

Diterbitkan pada 09 August 2026

Operasional pelabuhan melibatkan banyak pihak, mulai dari operator terminal, perusahaan pelayaran, agen kapal, regulator, EMKL, trucking, hingga pemilik barang. Masing-masing membutuhkan informasi yang saling berkaitan.Jika data masih tersebar di berbagai sistem atau proses dilakukan secara manual, pertukaran informasi dapat menjadi lambat dan berisiko menimbulkan kesalahan. Port Community System (PCS) hadir untuk membantu menghubungkan berbagai pihak tersebut dalam satu ekosistem digital. Apa Itu Port Community System?Port Community System adalah platform digital yang menghubungkan berbagai pihak dalam ekosistem pelabuhan untuk melakukan pertukaran data dan informasi secara elektronik. PCS memungkinkan informasi terkait kapal, kargo, dokumen, dan proses kepelabuhanan dapat dibagikan kepada pihak yang berkepentingan melalui sistem yang terintegrasi. Konsep ini juga membantu mengurangi kebutuhan untuk memasukkan data yang sama secara berulang ke sistem yang berbeda. Dengan data yang lebih terhubung, proses administrasi dapat menjadi lebih efisien. Siapa Saja yang Terhubung dalam PCS?PCS dapat melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam rantai logistik, seperti:Operator pelabuhan dan terminal, yang mengelola aktivitas operasional dan pelayanan kapal maupun kontainer.Perusahaan pelayaran dan agen kapal, yang membutuhkan informasi mengenai jadwal kapal, muatan, dan proses pelayanan di pelabuhan.EMKL, freight forwarder, dan trucking, yang membutuhkan informasi untuk mengatur proses pengiriman dan pengambilan barang.Regulator dan instansi terkait, yang membutuhkan data untuk mendukung proses pengawasan dan pelayanan kepelabuhanan. Dengan terhubungnya berbagai pihak, informasi dapat mengalir lebih cepat dan terkoordinasi. Mengapa PCS Penting bagi Pelabuhan?Salah satu manfaat utama PCS adalah meningkatkan visibilitas informasi. Misalnya, informasi mengenai jadwal kedatangan kapal dapat membantu terminal mempersiapkan pelayanan. Data terkait kargo dapat digunakan untuk mendukung proses administrasi, sementara informasi pergerakan kontainer dapat membantu pelaku trucking mengatur aktivitas pengiriman.Integrasi tersebut dapat membantu mengurangi proses manual, duplikasi data, serta risiko kesalahan informasi.Bagi pelabuhan dengan aktivitas yang semakin kompleks, kemampuan mengelola data secara terintegrasi juga dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional. PCS dan Digitalisasi PelabuhanPCS menunjukkan bahwa digitalisasi pelabuhan bukan hanya soal mengganti dokumen kertas dengan sistem elektronik. Yang lebih penting adalah menghubungkan data dan proses antar pihak agar setiap informasi dapat digunakan pada tahapan berikutnya. Dalam konteks ini, sistem seperti PortPintar dari Maritim Digital Indonesia dapat menjadi bagian dari upaya membangun pengelolaan pelabuhan yang lebih terintegrasi. Digitalisasi dapat membantu pelabuhan mengelola data operasional, meningkatkan visibilitas, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. KesimpulanPort Community System (PCS) adalah platform digital yang menghubungkan berbagai pihak dalam ekosistem pelabuhan untuk mempercepat pertukaran informasi dan meningkatkan efisiensi operasional. Semakin kompleks aktivitas pelabuhan, semakin penting pula kemampuan untuk mengintegrasikan data antar pihak. Pada akhirnya, digitalisasi pelabuhan bukan hanya tentang memiliki sistem, tetapi bagaimana sistem tersebut mampu membuat data lebih terhubung, proses lebih efisien, dan operasional lebih mudah dikendalikan.Konsultasikan transformasi digital pelabuhan Anda bersama kami sekarang.

Article image
Asuransi Pengangkutan Laut

Apa Itu General Average dalam Marine Cargo Insurance?

Diterbitkan pada 09 August 2026

Dalam pengiriman barang melalui laut, kerugian tidak selalu hanya ditanggung oleh pihak yang barangnya mengalami kerusakan. Dalam kondisi tertentu, pemilik barang yang selamat pun dapat memiliki kewajiban untuk ikut menanggung biaya penyelamatan. Konsep ini dikenal sebagai General Average, salah satu istilah penting dalam pelayaran dan Marine Cargo Insurance. Apa Itu General Average?General Average adalah prinsip dalam pelayaran yang memungkinkan kerugian atau biaya luar biasa yang sengaja dikeluarkan untuk menyelamatkan kapal dan seluruh kepentingan dalam satu perjalanan dibebankan secara proporsional kepada pihak-pihak yang berhasil diselamatkan. Sederhananya, ketika kapal menghadapi keadaan darurat dan diperlukan tindakan untuk menyelamatkan kapal beserta muatannya, tindakan tersebut dapat menimbulkan pengorbanan atau biaya tertentu. Jika memenuhi ketentuan General Average, biaya atau kerugian tersebut tidak hanya menjadi tanggungan pihak yang mengalami kerugian langsung, tetapi dapat dibagikan kepada pihak-pihak yang mendapatkan manfaat dari upaya penyelamatan. Kenapa Pemilik Barang Bisa Ikut Menanggung Kerugian?Hal ini sering menjadi pertanyaan pemilik barang. Misalnya, sebuah kapal menghadapi kondisi darurat dan sebagian muatan harus dikorbankan untuk menyelamatkan kapal serta muatan lainnya. Barang yang dikorbankan mengalami kerugian, sementara barang lain berhasil diselamatkan. Dalam kondisi yang memenuhi prinsip General Average, pemilik barang yang selamat dapat ikut memberikan kontribusi terhadap kerugian atau biaya penyelamatan tersebut. Jadi, barang yang selamat bukan berarti otomatis bebas dari kewajiban kontribusi General Average. Contoh General Average dalam Pengiriman KontainerBayangkan sebuah kapal membawa ratusan kontainer dan mengalami keadaan darurat di tengah perjalanan.Untuk mencegah kapal tenggelam dan menyelamatkan sebagian besar muatan, dilakukan tindakan darurat yang menyebabkan sebagian kontainer harus dikorbankan. Kerugian tersebut dalam kondisi tertentu dapat diperhitungkan sebagai bagian dari General Average. Selanjutnya, kontribusi dapat dibebankan secara proporsional kepada kepentingan yang berhasil diselamatkan. Besarnya kontribusi tidak ditentukan hanya berdasarkan nilai kerugian satu pihak, tetapi melalui proses perhitungan sesuai ketentuan General Average.Apa Hubungannya dengan Marine Cargo Insurance?General Average menunjukkan bahwa risiko pengiriman laut bukan hanya soal barang rusak atau hilang. Ketika General Average dideklarasikan, pemilik barang dapat menghadapi kewajiban kontribusi terhadap biaya atau kerugian yang memenuhi persyaratan General Average. Di sinilah Marine Cargo Insurance dapat menjadi penting. Polis yang memberikan perlindungan terhadap kewajiban General Average dapat membantu mengurangi beban finansial pemilik barang sesuai dengan cakupan, syarat, dan ketentuan polis. Karena itu, perusahaan sebaiknya memahami isi polis sebelum melakukan pengiriman, termasuk klausul mengenai General Average dan pengecualiannya. Apakah Semua Kerugian Kapal Termasuk General Average?Tidak.Tidak semua kerusakan kapal, kerusakan muatan, atau biaya yang muncul selama perjalanan otomatis termasuk General Average. Harus terdapat kondisi dan tindakan yang memenuhi prinsip General Average, termasuk adanya pengorbanan atau pengeluaran luar biasa yang dilakukan untuk menyelamatkan kepentingan bersama dalam satu perjalanan. Dalam praktiknya, penentuan dan perhitungan kontribusi General Average dapat melibatkan average adjuster, yaitu pihak yang menangani proses perhitungan dan pembagian kontribusi berdasarkan ketentuan yang berlaku.Kenapa General Average Penting Dipahami?Bagi perusahaan yang rutin melakukan pengiriman melalui laut, memahami General Average penting untuk mengantisipasi risiko finansial yang mungkin muncul setelah terjadi insiden pelayaran. Perusahaan bukan hanya perlu mempertimbangkan risiko kerusakan atau kehilangan barang, tetapi juga kemungkinan munculnya kewajiban kontribusi akibat tindakan penyelamatan. Karena itu, memilih Marine Cargo Insurance sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga premi, tetapi juga dengan memahami cakupan perlindungan yang diberikan. KesimpulanGeneral Average adalah prinsip pembagian kerugian atau biaya secara proporsional ketika dilakukan pengorbanan atau pengeluaran luar biasa untuk menyelamatkan kapal dan kepentingan yang terlibat dalam satu perjalanan. Artinya, pemilik barang yang selamat tetap dapat memiliki kewajiban kontribusi apabila kejadian tersebut memenuhi ketentuan General Average.Memahami prinsip ini membantu perusahaan mempersiapkan risiko pengiriman laut dengan lebih baik. Konsultasikan kebutuhan Marine Cargo Insurance bersama Maritim Digital Indonesia dengan klik link di bio.

Article image
Berita

Arus Peti Kemas Pelabuhan Panjang Melonjak 73,7 Persen, Apa Faktor Pendorongnya?

Diterbitkan pada 31 July 2026

Pelabuhan Panjang di Lampung mencatat lonjakan arus peti kemas yang signifikan. Pada Juli 2026, volume peti kemas meningkat 73,7 persen dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh penambahan layanan pelayaran (shipping service) yang membuka peluang lebih besar bagi distribusi barang dari dan menuju Pulau Sumatera. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan arus peti kemas tidak selalu dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas perdagangan saja. Penambahan rute pelayaran dan konektivitas antarpelabuhan juga memiliki peran besar dalam meningkatkan throughput terminal. Penambahan Layanan Pelayaran Jadi Faktor UtamaMenurut pemberitaan, lonjakan arus peti kemas di Pelabuhan Panjang dipicu oleh bertambahnya layanan pelayaran yang beroperasi di terminal tersebut. Dengan semakin banyak pilihan layanan, frekuensi kunjungan kapal meningkat sehingga kapasitas pengangkutan barang juga ikut bertambah. Bagi pengguna jasa logistik, penambahan layanan ini memberikan keuntungan berupa pilihan jadwal yang lebih fleksibel serta potensi waktu tunggu yang lebih singkat untuk proses pengiriman. Dampaknya bagi Rantai PasokMeningkatnya arus peti kemas menjadi sinyal positif bagi aktivitas logistik di wilayah Lampung dan sekitarnya.Semakin tinggi volume peti kemas yang dapat dilayani, semakin besar pula peran pelabuhan sebagai pusat distribusi barang. Kondisi ini dapat mendukung kelancaran pasokan bahan baku, mempercepat distribusi produk jadi, serta meningkatkan konektivitas dengan pelabuhan lain di Indonesia. Namun, pertumbuhan throughput juga harus diimbangi dengan kesiapan fasilitas terminal agar pelayanan tetap berjalan optimal. Infrastruktur dan Digitalisasi Harus Berjalan BersamaPeningkatan jumlah kapal dan arus peti kemas akan memberikan tekanan lebih besar terhadap operasional terminal. Karena itu, selain meningkatkan kapasitas fisik seperti dermaga dan alat bongkar muat, pengelolaan operasional juga perlu didukung oleh sistem digital yang mampu mengintegrasikan jadwal kapal, alokasi alat, pengaturan lapangan penumpukan, hingga pemantauan pergerakan kontainer. Digitalisasi membantu operator pelabuhan mengambil keputusan lebih cepat, mengurangi potensi antrean, dan meningkatkan efisiensi pelayanan kepada seluruh pengguna jasa. Peluang bagi Pelabuhan DaerahKeberhasilan Pelabuhan Panjang menunjukkan bahwa pelabuhan di luar pusat logistik utama juga memiliki peluang besar untuk tumbuh apabila didukung oleh konektivitas pelayaran yang memadai. Semakin banyak layanan kapal yang tersedia, semakin besar pula potensi suatu pelabuhan menjadi simpul distribusi regional. Hal ini tidak hanya meningkatkan aktivitas logistik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar pelabuhan. KesimpulanLonjakan arus peti kemas sebesar 73,7 persen di Pelabuhan Panjang menjadi bukti bahwa penambahan layanan pelayaran mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan aktivitas logistik. Ke depan, pertumbuhan tersebut perlu didukung oleh peningkatan kapasitas operasional dan transformasi digital agar kualitas pelayanan tetap terjaga seiring bertambahnya volume peti kemas. Dengan kombinasi infrastruktur, konektivitas, dan digitalisasi, pelabuhan dapat berperan lebih besar dalam memperkuat efisiensi rantai pasok nasional. Sumber berita:Kompas.com – Arus Peti Kemas Pelabuhan Panjang Melonjak 73,7 Persen, Didorong Penambahan Layanan PelayaranSWA – Arus Peti Kemas di Pelindo Terminal Petikemas Tumbuh 5,51% di Semester I 2026 (sebagai referensi pendukung konteks pertumbuhan throughput nasional).Sumber image: https://asset.kompas.com/

Article image
Berita

Arus Peti Kemas TPK Merauke Tembus 27.523 TEUs, Logistik Papua Selatan Tumbuh Dua Digit

Diterbitkan pada 27 July 2026

Aktivitas logistik di kawasan timur Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga Semester I 2026, Terminal Peti Kemas (TPK) Merauke mencatat arus peti kemas mencapai 27.523 TEUs, meningkat 11,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas perdagangan dan distribusi barang di Papua Selatan terus bertumbuh. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dan meningkatnya aktivitas ekonomi di wilayah timur Indonesia mulai memberikan dampak terhadap pergerakan logistik. Apa yang Mendorong Pertumbuhan Arus Peti Kemas?Menurut pengelola terminal, peningkatan arus peti kemas didorong oleh meningkatnya kebutuhan material untuk berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) serta pertumbuhan aktivitas ekonomi di Papua Selatan.Selain itu, optimalisasi pelayanan operasional, pemanfaatan peralatan bongkar muat, dan peningkatan efisiensi terminal turut mendukung kelancaran distribusi barang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan logistik tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh kemampuan pelabuhan dalam memberikan layanan yang andal. Dampaknya bagi Rantai PasokMeningkatnya volume peti kemas menjadi sinyal positif bagi pelaku logistik, perusahaan pelayaran, dan pemilik barang. Semakin besar arus barang yang dapat dilayani, semakin besar pula peran pelabuhan dalam mendukung distribusi kebutuhan masyarakat maupun proyek pembangunan di wilayah timur Indonesia. Namun, pertumbuhan tersebut juga harus diimbangi dengan kesiapan fasilitas terminal agar peningkatan volume tidak menimbulkan antrean kapal maupun kepadatan lapangan penumpukan. Digitalisasi Menjadi Faktor PendukungSeiring bertambahnya volume peti kemas, pengelolaan terminal memerlukan sistem yang mampu memberikan visibilitas terhadap seluruh proses operasional.Digitalisasi membantu operator terminal dalam mengatur jadwal kapal, mengelola penggunaan alat bongkar muat, memantau pergerakan kontainer, serta meningkatkan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika aktivitas logistik terus berkembang dari tahun ke tahun. KesimpulanPertumbuhan arus peti kemas TPK Merauke hingga mencapai 27.523 TEUs menunjukkan bahwa aktivitas logistik di Papua Selatan terus berkembang seiring meningkatnya pembangunan dan perdagangan di kawasan tersebut. Ke depan, tantangan utama bukan hanya menjaga pertumbuhan volume, tetapi juga memastikan pelayanan terminal tetap efisien melalui peningkatan kapasitas operasional dan pemanfaatan teknologi digital. Dengan demikian, pelabuhan dapat terus mendukung kelancaran rantai pasok di wilayah timur Indonesia. Sumber berita: iNews Surabaya, Arus Peti Kemas TPK Merauke Tembus 27.523 TEUs, Logistik Papua Selatan Tumbuh Dua Digit: https://surabaya.inews.id/read/704401/arus-peti-kemas-tpk-merauke-tembus-27523-teus-logistik-papua-selatan-tumbuh-dua-digit

Article image
Berita

Indonesia Resmi Operasikan Terminal Peti Kemas Baru di Pelabuhan Patimban

Diterbitkan pada 27 July 2026

Pelabuhan Patimban kembali mencatat tonggak penting dalam pengembangan logistik nasional. Pemerintah resmi mengoperasikan terminal peti kemas baru di Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat. Kehadiran terminal ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas layanan peti kemas nasional sekaligus memperkuat konektivitas logistik, khususnya bagi kawasan industri di Jawa Barat. Pengoperasian terminal peti kemas tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Priok yang selama ini menjadi gerbang utama ekspor dan impor Indonesia. Meningkatkan Kapasitas Logistik NasionalTerminal peti kemas baru di Patimban dirancang untuk melayani kapal kontainer dengan kapasitas yang terus ditingkatkan secara bertahap. Pada tahap awal operasional, terminal mampu melayani sekitar 250.000 TEUs per tahun dan ditargetkan meningkat hingga 800.000 TEUs setelah penambahan peralatan bongkar muat pada akhir 2026. Dalam jangka panjang, Pelabuhan Patimban diproyeksikan menjadi salah satu pelabuhan utama Indonesia dengan kapasitas mencapai jutaan TEUs per tahun sehingga mampu mendukung pertumbuhan perdagangan internasional. Mendukung Kawasan Industri di Jawa BaratSalah satu keunggulan Pelabuhan Patimban adalah lokasinya yang dekat dengan berbagai kawasan industri di Jawa Barat, seperti Subang, Karawang, Purwakarta, hingga Bekasi. Kedekatan tersebut diharapkan dapat memangkas waktu distribusi barang menuju pelabuhan sehingga biaya logistik menjadi lebih efisien. Bagi industri manufaktur, khususnya sektor otomotif, keberadaan Patimban memberikan alternatif selain Tanjung Priok untuk kegiatan ekspor maupun impor. Selain itu, pengembangan jalan tol akses Patimban juga akan memperkuat konektivitas antara kawasan industri dengan pelabuhan. Tantangan Tidak Hanya Soal InfrastrukturPembangunan terminal baru merupakan langkah penting, namun kapasitas fisik saja belum cukup untuk menciptakan pelabuhan yang efisien. Seiring meningkatnya volume peti kemas, pengelolaan operasional juga perlu didukung sistem digital yang mampu mengintegrasikan jadwal kapal, proses bongkar muat, pengelolaan lapangan penumpukan, hingga koordinasi dengan perusahaan pelayaran dan pelaku logistik. Digitalisasi akan membantu terminal memanfaatkan kapasitas yang tersedia secara optimal sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa. KesimpulanBeroperasinya terminal peti kemas baru di Pelabuhan Patimban menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem logistik nasional. Kehadiran terminal ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas layanan, mendukung pertumbuhan kawasan industri, serta mengurangi kepadatan di pelabuhan utama lainnya.Ke depan, keberhasilan Patimban tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mengelola operasional secara efisien melalui kolaborasi dan transformasi digital. Sumber berita: IDNFinancials, Indonesia Resmi Operasikan Terminal Peti Kemas Baru Pelabuhan Patimban: https://www.idnfinancials.com/id/news/65945/indonesia-resmi-operasikan-terminal-peti-kemas-baru-pelabuhan-patimbanSumber image: https://interport.co.id/id/ports/patimban/

Copyright © 2026 PT. Maritim Digital Indonesia